Kamis, 20 September 2012

ASAL USUL PADI PULUT

0 komentar


ASAL USUL PADI PULUT

Dahulu kala tersebutlah seorang Dato (dukun) yang sangat sakti. Ia dapat menyuruh tungku menari-nari.
Meskipun sangat sakti, hati dukun ini sangat baik dan tulus. Ia tak pernah sombong, apalagi dengki.
Pada suatu hari, sang Dato pergi ke puncak sebuah bukit besar. Ia bersemedi di sana. Dato itu lalu memohon kepada Tuhan agar diberi kekuatan mendirikan suatu negeri di atas bukit. Tak lama kemudian, terdengarlah suara yang mengatakan bahwa doanya akan terkabul. Akan tetapi, kelak kehidupan desa itu akan berakhir menyedihkan.
Sang Dato kembali menemui masyarakat desanya. Ia menceritakan semua yang dialaminya itu. Namun, belum selesai ia berbicara, beberapa penduduk menyela pembicaraannya. Oleh karena itu, penduduk tidak tahu akhir kehidupan negeri baru mereka kelak.
Singkat cerita, para penduduk pun pindah ke puncak bukit yang diberi nama Sicike-Cike. Akan tetapi, sang Dato tidak ikut pindah. Ia tetap tinggal di desanya. Dalam waktu singkat, penduduk kian banyak dan kian ramai. Perantau pun makin banyak yang berdatangan ke negeri yang makin ramai dan subur ini. Namun sayang, mereka mengangkat raja yang kejam. Mereka pun menjadi sombong dan kikir.
Tak lama kemudian datanglah keluarga baru Sicike-Cike tersebut. Keluarga ini tergolong keluarga kurang mampu. Mereka mempunyai seorang anak laki-laki, Olih namanya. Sang ayah berwajah sangat tampan sehingga menawan hati kaum perempuan. Akibatnya, ia menjadi lupa diri dan menikah lagi dengan gadis yang orang tuanya kaya raya. Lalu, anak dan istrinya pun ia tinggalkan.
Malang nian nasib ibu dan anak ini. Sudah ditinggal suami, hidup pula di negeri yang  diperintah oleh raja yang kejam. Karena tak berpunya dan sangat menderita, maka pergilah keduanya menuju hutan meninggalkan negeri yang tak berbalas kasihan itu. Di hutan mereka mendirikan gubuk untuk tempat tinggal. Apabila mereka lapar, dedaunan dan tanaman hutanlah makanan mereka.
Meskipun kehidupan di Sicike-Cike semakin makmur, tetapi penduduknya tetap kikir. Suatu hari datanglah seorang tua sakti  yang berpakaian compang-camping ke negeri itu. Ia meminta sesuap nasi, seteguk air, serta sesobek kain untuk menahan dingin. Akan tetapi, yang didapat hanyalah caci maki yang menyakitkan. Lebih dari itu, orang tua itu sengaja didorong sampai tercebur ke sungai agar bisa menjadi tontonan. Namun, apa yang terjadi kemudian? Dalam waktu sekejap saja orang tua itu berubah menjadi lelaki tampan, dan sekejap lagi berubah seperti semula. Begitu hingga beberapa kali sampai semua orang yang melihatnya terpana. Setelah itu ia menghilang. Serentak mereka mencari orang tua itu, tetapi tak juga ditemukan.
Ternyata, orang tua sakti itu sampai ke sebuah ladang di tepi hutan tempat Olih dan ibunya tinggal. Keduanya dengan senang hati menerima orang tua itu. Si Ibu memasakkan daun dan cendawan untuk makanan. Olih yang telah menjadi pemuda yang berbudi, menceritakan semua kejadian yang menimpa keluarganya sampai ia tinggal di tepi hutan itu bersama ibunya. Akhirnya, orang tua sakti ini pun pamit.
Setelah berpamitan, dalam sekejap orang tua itu menghilang. Olih dan ibunya sampai terheran-heran.
Sementara itu, sekonyong-konyong penduduk Sicike-Cike dilanda kelaparan. Untuk makan saja, mereka harus meminjam ke sana kemari, termasuk ayah si Olih. Walaupun tertimpa musibah, tapi penduduk negeri itu tetap sombong dan tidak mau sadar.
Suatu hari negeri Sicike-Cike kedatangan tujuh orang gadis yang ingin bermalam. Tak satu pun penduduk yang mau menerimanya. Mereka malah mencaci maki dengan kasar. Akhirnya, pergilah ketujuh gadis itu ke hutan menuju gubuk Olih. Ibu dan Olih pun menerima mereka dengan senang hati.
Malam pun tiba. Tujuh gadis ini mohon izin untuk tidur. Sebelum tidur, mereka meminjam selimut. Mereka kemudian tidur dengan selimut tersebut. Anehnya, mereka tidak bangun-bangun. Akan tetapi, ibu Olih tidak berani membangunkan mereka. Pada hari ketujuh sang ibu memberanikan diri membuka selimut para gadis. Alangkah terkejutnya ia karena yang terlihat adalah timbunan padi dengan tujuh warna yang indah dan menarik. Hanya tinggal satu orang yang masih utuh dari kepala sampai leher. Gadis itupun berkata, “Untunglah tidak terlambat. Ambillah air dan percikkan diriku. Jangan heran! Semua ini adalah karunia Yang Mahakuasa atas permintaan ayah hamba sebagai orang tua keramat yang pernah menginap di sini.”
“Kini jika ibu berkenan dan Olih menyukaiku, aku rela menjadi istri Bang Olih dan Ibu menjadi mertuaku.”
Kini bahagialah keluarga kecil itu. Padi yang mereka miliki rasa yang istimewa, gurih dan wangi. Selain itu, padi amat lembek dan lengket seperti pulut (getah). Oleh karena itulah, padi itu diberi nama padi pulut. Padi pulut inilah dikenal padi ketan atau beras ketan.
Maka tersebarlah berita sampai ke Sicike-Cike yang mengalami kelaparan. Mereka datang menghadap Olih untuk meminta padi pulut. Dengan kerelaan hati, Olih memberikan padi pulut kepada orang-orang itu. Olih pun memberi nasehat bahwa mereka harus mengubah sikap menjadi lebih baik.
Akhirnya, karena kebijakan budi Olih, maka iapun diangkat menjadi raja negeri Siciuke-Cike. Ia memimpin negeri itu sehingga rakyatnya menjadi makmur sentosa.

Leave a Reply